Apakah Retatrutide Sudah Setara dengan Operasi Bariatrik?
Belum dapat disimpulkan.
Besarnya penurunan berat badan dalam TRIUMPH-1 memang menarik jika dibandingkan dengan hasil sebagian prosedur metabolic/bariatric surgery. Bahkan Lilly menyebut tingkat penurunan berat badan ≥30% sebagai tingkat yang lama dikaitkan dengan operasi bariatrik.
Namun terdapat perbedaan mendasar.
TRIUMPH-1 bukan penelitian head-to-head yang membandingkan retatrutide dengan operasi bariatrik.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa:
“Retatrutide sama efektifnya dengan operasi bariatrik.”
Pernyataan yang lebih akurat adalah:
Penurunan berat badan yang dicapai sebagian peserta retatrutide berada pada kisaran yang dapat dicapai melalui sebagian prosedur metabolic/bariatric surgery, tetapi efektivitas keduanya belum dapat dinyatakan setara tanpa perbandingan langsung.
Operasi metabolik mengubah anatomi dan fisiologi saluran cerna, sedangkan retatrutide bekerja secara farmakologis. Keduanya mempunyai indikasi, risiko, manfaat, kebutuhan monitoring dan konsekuensi jangka panjang yang berbeda.
Bagaimana pada Pasien dengan Diabetes Tipe 2?
Perkembangan penting berikutnya datang dari TRIUMPH-2.
Studi fase 3 ini melibatkan peserta dengan diabetes tipe 2 yang juga mengalami overweight atau obesitas.
Setelah 80 minggu, penurunan berat badan rata-rata mencapai:
4 mg: 12,7%
9 mg: 19,1%
12 mg: 20,8%
Placebo: 4,0%
Pada saat yang sama, HbA1c juga mengalami penurunan. Pada dosis yang diteliti, penurunan HbA1c rata-rata mencapai hingga sekitar 1,6 percentage points.
Temuan tersebut penting karena obesitas dan diabetes tipe 2 merupakan bagian dari spektrum penyakit metabolik yang saling berhubungan.
Namun hasil tersebut tetap merupakan data uji klinis obat investigasional, bukan rekomendasi bahwa retatrutide dapat digunakan secara rutin untuk pasien diabetes di Indonesia.
Bagaimana pada Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular?
TRIUMPH-3 meneliti retatrutide pada orang dengan severe obesity dan established cardiovascular disease, dengan atau tanpa diabetes tipe 2.
Setelah 80 minggu, penurunan berat badan rata-rata mencapai 21,6% pada dosis 9 mg dan 22,6% pada dosis 12 mg, dibandingkan 3,2% pada placebo.
Studi ini juga memberikan data mengenai major adverse cardiovascular events atau MACE.
Dalam analisis yang ditentukan sebelumnya, MACE-5 terjadi pada 44 peserta yang menerima retatrutide dan 52 peserta pada placebo, dengan hazard ratio 0,82. Untuk MACE-3, terdapat 27 kejadian pada kelompok retatrutide dan 23 pada placebo, dengan hazard ratio 1,12. Interval kepercayaan pada kedua analisis tersebut cukup lebar, sehingga data ini belum memberikan dasar untuk menyimpulkan manfaat atau risiko kardiovaskular secara definitif.
Karena itu, data cardiovascular outcomes perlu dibaca bersama publikasi lengkap dan evaluasi regulator.
Bagaimana Profil Keamanannya?
Seperti terapi berbasis incretin lainnya, kejadian gastrointestinal merupakan bagian penting dari profil keamanan retatrutide.
Dalam TRIUMPH-1, kejadian yang paling sering dilaporkan antara lain mual, diare, konstipasi dan muntah.
Pada TRIUMPH-2, misalnya, diare dilaporkan pada 27,4%, 33,5% dan 33,6% peserta pada dosis 4 mg, 9 mg dan 12 mg. Mual masing-masing dilaporkan pada 13,7%, 20,8% dan 28,0%.
Penting untuk membedakan istilah adverse event dengan efek samping yang secara pasti disebabkan oleh obat. Karena itu, data tersebut sebaiknya dibaca sebagai kejadian tidak diinginkan yang terjadi selama penelitian.
Dalam TRIUMPH-2 dan TRIUMPH-3, sebagian besar kejadian tertentu seperti disestesia dan infeksi saluran kemih dilaporkan ringan sampai sedang dan mayoritas membaik selama terapi.
Data keamanan lengkap akan menjadi salah satu bagian penting dalam proses evaluasi regulator.
Mengapa Retatrutide Menjadi Penting bagi Indonesia?
Retatrutide menjadi lebih relevan ketika ditempatkan dalam konteks epidemiologi Indonesia.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023.
Tiga provinsi dengan prevalensi obesitas tertinggi adalah DKI Jakarta 31,8%, Papua 31,3%, dan Sulawesi Utara 30,6%. Kementerian Kesehatan menggunakan IMT ≥27 kg/m² sebagai kategori obesitas pada penduduk dewasa dalam SKI 2023.
Masalahnya juga tidak hanya mengenai berat badan.
Prevalensi obesitas sentral pada penduduk berusia ≥15 tahun mencapai 36,8%. Batas yang digunakan adalah lingkar perut lebih dari 90 cm pada laki-laki dan lebih dari 80 cm pada perempuan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan metabolik di Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar jumlah orang yang memiliki BMI tinggi.
Indonesia Sudah Memasuki Era Terapi Incretin
Perkembangan retatrutide juga tidak terjadi dalam ruang kosong.
Indonesia telah mulai memasuki era terapi berbasis incretin.
BPOM menyatakan tirzepatide memperoleh izin edar pada Februari 2026 untuk diabetes melitus tipe 2 dan pada Juli 2026 memperoleh tambahan indikasi untuk manajemen berat badan.
Dengan demikian, jika retatrutide suatu saat memperoleh persetujuan regulator dan kemudian mengajukan registrasi di Indonesia, obat tersebut akan memasuki ekosistem yang sudah mulai mengenal terapi farmakologis modern untuk obesitas.
Perkembangannya dapat dilihat sebagai:
liraglutide → semaglutide → tirzepatide → retatrutide
Namun urutan tersebut bukan berarti satu obat otomatis menggantikan obat sebelumnya. Setiap terapi mempunyai indikasi, bukti klinis, profil keamanan, biaya dan posisi klinis masing-masing.
Apa Artinya bagi Dokter Indonesia?
Jika retatrutide akhirnya disetujui, pertanyaan klinis tidak hanya:
“Berapa kilogram pasien dapat turun?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Siapa yang menjadi kandidat terapi?
Apa target penurunan berat badannya?
Apa penyakit penyerta pasien?
Apakah farmakoterapi merupakan pilihan terbaik?
Apakah pasien lebih tepat menjalani prosedur metabolic/bariatric surgery?
Bagaimana status nutrisi dan komposisi tubuh dipantau?
Bagaimana terapi dipertahankan dalam jangka panjang?
Ini menunjukkan bahwa masa depan pengobatan obesitas kemungkinan semakin membutuhkan pendekatan multidisiplin.
Dokter penyakit dalam dan endokrinologi, dokter bedah, dokter gizi klinik, gastroenterologi, kardiologi, pulmonologi atau sleep medicine, rehabilitasi medik dan tenaga kesehatan lainnya dapat memiliki peran dalam pengelolaan pasien sesuai kebutuhan klinis.
Apakah Obat Baru Akan Mengurangi Peran Bariatric Surgery?
Belum tentu.
Masa depan kemungkinan tidak akan berbentuk:
OBAT versus OPERASI
melainkan:
OBAT + GAYA HIDUP + ENDOSKOPI + METABOLIC/BARIATRIC SURGERY
sesuai karakteristik pasien.
Sebagian pasien mungkin memperoleh hasil yang baik melalui farmakoterapi. Sebagian lainnya mungkin memiliki indikasi untuk operasi metabolik. Ada pula pasien yang membutuhkan lebih dari satu pendekatan selama perjalanan penyakitnya.
Dengan demikian, semakin efektifnya obat obesitas tidak berarti operasi metabolik menjadi tidak relevan.
Sebaliknya, pilihan terapi dapat menjadi semakin luas dan semakin individual.









