Obat atau Operasi Bariatrik: Mana yang Akan Menjadi Masa Depan Terapi Obesitas?

26 Agustus 2026 | METABARIDIGESTIVE.ID

Obat-obatan baru seperti semaglutide dan tirzepatide menawarkan pilihan terapi yang semakin efektif. Namun, pada sebagian pasien, operasi bariatrik dapat memberikan manfaat penurunan berat badan dan metabolik yang besar dan berkelanjutan. Bagaimana dokter menentukan pilihan yang tepat?

Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau penampilan. Obesitas merupakan penyakit kronis dan kompleks yang berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, sleep apnea, gangguan sendi hingga penyakit hati terkait gangguan metabolik. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan meminta pasien mengurangi makan dan meningkatkan aktivitas fisik.

Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan terapi obesitas berkembang pesat. Selain perubahan pola makan, aktivitas fisik dan intervensi perilaku, dokter kini memiliki obat-obatan yang mampu menghasilkan penurunan berat badan yang jauh lebih besar, terutama kelompok obat berbasis hormon incretin seperti semaglutide dan tirzepatide. Di sisi lain, metabolic and bariatric surgery tetap menjadi pilihan penting bagi pasien dengan obesitas tertentu, terutama ketika terdapat risiko dan penyakit metabolik yang signifikan.

Karena itu, pertanyaan klinis yang lebih tepat bukan sekadar “obat atau operasi?”, tetapi “terapi mana yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien?”

Obesitas tidak cukup dinilai dari angka timbangan

Penentuan terapi obesitas tidak seharusnya hanya berdasarkan berat badan atau indeks massa tubuh (BMI). Dokter perlu melihat kondisi pasien secara lebih menyeluruh.

Beberapa hal yang perlu dinilai antara lain BMI, lingkar pinggang, distribusi lemak tubuh, diabetes atau prediabetes, tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, penyakit jantung dan pembuluh darah, obstructive sleep apnea, penyakit hati terkait disfungsi metabolik, gangguan sendi, kondisi psikologis, kualitas hidup serta riwayat keberhasilan atau kegagalan program penurunan berat badan sebelumnya.

Hal ini penting terutama pada populasi Asia, termasuk Indonesia. Risiko gangguan metabolik dapat muncul pada BMI yang lebih rendah dibandingkan sebagian populasi Barat. Pedoman Kementerian Kesehatan RI menggunakan klasifikasi Asia Pasifik dalam penilaian obesitas dan juga menempatkan lingkar pinggang sebagai indikator penting risiko metabolik.

Dengan demikian, seseorang dengan BMI yang tidak terlalu tinggi tetapi memiliki diabetes, hipertensi, lemak abdominal yang tinggi atau komplikasi metabolik lainnya tetap membutuhkan perhatian klinis yang serius.

Ketika perubahan gaya hidup belum cukup

Perubahan pola makan, aktivitas fisik, tidur yang cukup dan intervensi perilaku tetap merupakan fondasi penanganan obesitas. Obat maupun operasi tidak menggantikan prinsip tersebut.

Namun, obesitas memiliki mekanisme biologis yang kompleks. Setelah berat badan turun, tubuh dapat meningkatkan rasa lapar dan menurunkan pengeluaran energi sehingga mempertahankan penurunan berat badan menjadi sulit. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa sebagian pasien mengalami kenaikan kembali berat badan meskipun sebelumnya berhasil menjalani program diet.

Pada pasien yang memenuhi kriteria, farmakoterapi dapat digunakan sebagai tambahan terhadap intervensi gaya hidup. Guideline farmakoterapi obesitas 2025 merekomendasikan penggunaan obat tertentu, termasuk semaglutide dan tirzepatide, pada kelompok pasien yang memenuhi kriteria klinis.

Semaglutide dan tirzepatide mengubah terapi obesitas

Semaglutide merupakan agonis reseptor GLP-1. Obat ini bekerja antara lain dengan memengaruhi regulasi nafsu makan dan rasa kenyang serta membantu memperbaiki kontrol glukosa.

Tirzepatide bekerja pada dua jalur hormon incretin, yaitu GIP dan GLP-1. Mekanisme ganda tersebut menghasilkan efek yang kuat terhadap kontrol metabolik dan penurunan berat badan.

Dalam berbagai uji klinis, kedua obat tersebut menunjukkan penurunan berat badan yang bermakna dibandingkan plasebo ketika digunakan bersama intervensi gaya hidup.

Pada salah satu studi besar semaglutide pada orang dewasa dengan obesitas atau overweight tanpa diabetes, penurunan berat badan rata-rata sekitar 14,9% setelah 68 minggu. Pada studi tirzepatide selama 72 minggu pada populasi serupa, penurunan berat badan rata-rata mencapai sekitar 15,0% pada dosis 5 mg, 19,5% pada dosis 10 mg dan 20,9% pada dosis 15 mg.

Angka tersebut merupakan hasil rata-rata kelompok penelitian. Hasil individual pasien dapat berbeda dan tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa setiap pasien akan mengalami penurunan berat badan sebesar angka tersebut.

Tirzepatide dibandingkan dengan semaglutide

Pertanyaan berikutnya adalah: jika keduanya sama-sama efektif, apakah salah satunya lebih unggul?

Evidence langsung tersedia melalui studi SURMOUNT-5 yang membandingkan tirzepatide dan semaglutide pada orang dewasa dengan obesitas tanpa diabetes tipe 2 selama 72 minggu.

Dalam penelitian tersebut, penurunan berat badan rata-rata sekitar 20,2% pada kelompok tirzepatide dibandingkan sekitar 13,7% pada kelompok semaglutide. Peserta yang menggunakan tirzepatide juga lebih banyak mencapai berbagai tingkat penurunan berat badan, termasuk ≥10%, ≥15%, ≥20% dan ≥25%.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa tirzepatide menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan semaglutide dalam populasi penelitian tersebut.

Namun, hasil ini tidak berarti tirzepatide otomatis merupakan pilihan terbaik bagi setiap pasien. Pemilihan obat tetap harus mempertimbangkan penyakit penyerta, keamanan, tolerabilitas, respons terapi, biaya, akses terhadap obat serta kemampuan pasien menjalani terapi dalam jangka panjang.

Obat bukan solusi jangka pendek

Salah satu hal penting yang perlu dipahami pasien adalah bahwa terapi obesitas tidak selalu dapat dihentikan begitu berat badan sudah turun.

Obesitas merupakan penyakit kronis. Ketika obat yang efektif dihentikan, sebagian pasien dapat mengalami peningkatan kembali berat badan.

Studi lanjutan terhadap semaglutide menunjukkan adanya kenaikan kembali berat badan setelah terapi dihentikan. Hal serupa juga terlihat pada penelitian tirzepatide ketika pasien dialihkan dari terapi aktif ke plasebo.

Karena itu, keputusan untuk memulai obat harus sekaligus mempertimbangkan strategi jangka panjang. Pasien perlu mengetahui sejak awal bahwa terapi mungkin membutuhkan pemantauan dan penggunaan berkelanjutan.

Efek samping yang paling sering ditemukan pada obat-obatan berbasis incretin adalah gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, diare atau konstipasi. Pemilihan dan peningkatan dosis harus dilakukan secara bertahap sesuai rekomendasi dan pengawasan dokter.

Lalu, kapan operasi dipertimbangkan?

Metabolic and bariatric surgery merupakan bagian penting dari tata laksana obesitas modern.

Operasi ini tidak semata-mata bertujuan mengecilkan lambung. Prosedur seperti sleeve gastrectomy dan Roux-en-Y gastric bypass dapat menghasilkan perubahan fisiologis yang memengaruhi nafsu makan, hormon gastrointestinal, metabolisme glukosa dan respons tubuh terhadap makanan.

Karena itu, istilah metabolic surgery semakin banyak digunakan untuk menekankan manfaat metaboliknya, terutama pada pasien dengan diabetes tipe 2 dan penyakit metabolik lainnya.

Guideline ASMBS/IFSO 2022 merekomendasikan metabolic and bariatric surgery pada individu dengan BMI ≥35 kg/m², terlepas dari ada atau tidaknya penyakit penyerta. Operasi juga dapat dipertimbangkan pada BMI 30–34,9 kg/m² ketika terdapat penyakit metabolik atau ketika terapi non-bedah tidak memberikan hasil yang memadai.

Untuk populasi Asia, penilaian perlu mempertimbangkan risiko metabolik yang dapat muncul pada BMI lebih rendah. Namun, angka BMI tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memutuskan operasi. Evaluasi pasien secara menyeluruh tetap diperlukan.

Operasi bukan sekadar “jalan pintas”

Anggapan bahwa operasi bariatrik merupakan cara cepat untuk menurunkan berat badan juga perlu diluruskan.

Pasien yang akan menjalani operasi membutuhkan evaluasi multidisiplin. Penilaian dapat mencakup kondisi metabolik, nutrisi, penyakit penyerta, risiko anestesi, kondisi psikologis, obat-obatan yang sedang digunakan serta kesiapan pasien menjalani perubahan pola makan dan follow-up jangka panjang.

Setelah operasi, pasien tetap membutuhkan pemantauan.

Beberapa masalah yang dapat muncul antara lain defisiensi vitamin dan mineral, gangguan nutrisi, komplikasi gastrointestinal, perubahan toleransi makanan dan kenaikan kembali berat badan. Karena itu, keberhasilan operasi tidak hanya diukur dari berapa kilogram berat badan yang hilang, tetapi juga dari perbaikan kesehatan metabolik dan kemampuan pasien mempertahankan hasil dalam jangka panjang.

Obat dan operasi tidak selalu harus dipertentangkan

Inilah perubahan penting dalam pendekatan modern terhadap obesitas.

Obat dan operasi tidak selalu merupakan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi bagian dari strategi penanganan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pasien dengan obesitas yang belum memenuhi kriteria operasi dapat memperoleh farmakoterapi apabila memenuhi indikasi. Sebaliknya, pasien yang memenuhi kriteria metabolic and bariatric surgery dapat dievaluasi untuk tindakan tersebut.

Pada pasien tertentu, farmakoterapi juga dapat dipertimbangkan setelah operasi, misalnya ketika terjadi kenaikan kembali berat badan atau ketika target metabolik belum tercapai.

Dengan demikian, pendekatan yang semakin berkembang adalah tata laksana obesitas secara multimodal, bukan mencari satu terapi yang dianggap paling unggul untuk semua pasien.

Jangan membandingkan obat dan operasi hanya dari persentase penurunan berat badan

Membandingkan angka penurunan berat badan dari studi obat dengan angka dari studi operasi secara langsung dapat menyesatkan.

Penelitian obat dan operasi sering melibatkan populasi pasien yang berbeda, desain penelitian yang berbeda, lama follow-up yang berbeda serta tujuan klinis yang berbeda.

Sampai saat ini, belum tersedia evidence randomized controlled trial yang cukup untuk menyatakan secara universal bahwa tirzepatide atau semaglutide lebih baik atau lebih buruk daripada metabolic and bariatric surgery pada seluruh pasien yang memenuhi indikasi operasi.

Karena itu, pertanyaan “mana yang paling efektif?” harus selalu diikuti pertanyaan lain:

Efektif untuk pasien yang mana? Untuk tujuan apa? Dengan risiko apa? Dan dapat dipertahankan berapa lama?

Bagaimana dokter menentukan pilihan?

Secara sederhana, proses pengambilan keputusan dapat dimulai dari beberapa pertanyaan.

Pertama, seberapa berat obesitas dan bagaimana distribusi lemak tubuh pasien?

BMI penting, tetapi tidak cukup. Lingkar pinggang dan kondisi metabolik juga perlu diperhatikan.

Kedua, apakah sudah terdapat komplikasi?

Diabetes, prediabetes, hipertensi, dislipidemia, sleep apnea, penyakit jantung, penyakit hati terkait disfungsi metabolik dan gangguan sendi dapat memengaruhi pilihan terapi.

Ketiga, seberapa besar penurunan berat badan yang dibutuhkan?

Target terapi tidak selalu sama untuk setiap pasien. Pada sebagian pasien, penurunan berat badan yang relatif kecil sudah memberikan manfaat metabolik. Pasien lain membutuhkan penurunan berat badan yang jauh lebih besar untuk mencapai tujuan kesehatan tertentu.

Keempat, bagaimana respons pasien terhadap intervensi sebelumnya?

Dokter perlu melihat apakah pasien telah mendapatkan intervensi gaya hidup yang memadai, berapa lama dilakukan, bagaimana responsnya dan apa yang menyebabkan berat badan kembali meningkat.

Kelima, apa pilihan dan kemampuan pasien?

Biaya, akses obat, kesiapan menjalani operasi, kemampuan melakukan follow-up, dukungan keluarga dan preferensi pasien merupakan bagian penting dari pengambilan keputusan.

Keenam, bagaimana strategi jangka panjangnya?

Tujuan terapi bukan sekadar menurunkan berat badan, tetapi mengurangi risiko penyakit, memperbaiki fungsi dan kualitas hidup serta mempertahankan manfaat tersebut selama mungkin.

Bagaimana dengan pasien di Indonesia?

Indonesia telah memasuki fase baru dalam tata laksana obesitas.

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/509/2025. Pedoman ini menjadi salah satu rujukan penting bagi pelayanan obesitas dewasa di Indonesia.

Dari sisi terapi farmakologis, BPOM pada 2026 menyatakan bahwa tirzepatide telah memperoleh izin edar di Indonesia untuk diabetes melitus tipe 2 pada Februari 2026 dan memperoleh tambahan indikasi untuk manajemen berat badan pada Juli 2026. Semaglutide juga telah memiliki produk dengan indikasi terkait pengelolaan berat badan di Indonesia.

Perkembangan tersebut membuat diskusi mengenai obat anti-obesitas semakin relevan bagi dokter dan pasien Indonesia.

Namun, meningkatnya ketersediaan obat juga membawa tantangan baru. Obat penurun berat badan tidak seharusnya digunakan secara mandiri tanpa evaluasi medis. Pasien perlu mendapatkan diagnosis, menentukan target terapi, mengetahui kontraindikasi dan potensi efek samping, serta menjalani pemantauan selama terapi.

Jadi, berobat atau operasi?

Jawabannya tidak sama untuk setiap pasien.

Obat seperti semaglutide dan tirzepatide telah memberikan perubahan besar dalam terapi obesitas. Keduanya dapat menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan dan memberikan manfaat metabolik pada pasien yang sesuai.

Metabolic and bariatric surgery tetap memiliki posisi penting, terutama pada pasien dengan obesitas derajat tinggi dan/atau penyakit metabolik yang memenuhi kriteria intervensi bedah. Operasi juga dapat memberikan perubahan metabolik yang luas dan manfaat jangka panjang.

Namun, tidak tepat mengatakan bahwa obat selalu lebih baik daripada operasi. Sebaliknya, tidak tepat pula mengatakan bahwa operasi selalu merupakan pilihan terbaik.

Terapi obesitas harus dipilih berdasarkan kondisi pasien, bukan berdasarkan tren terapi.

Pasien yang satu mungkin memperoleh manfaat optimal dari farmakoterapi. Pasien lain mungkin lebih tepat menjalani metabolic and bariatric surgery. Pada sebagian pasien, pendekatan kombinasi dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Karena itu, keputusan terbaik bukanlah memilih antara “obat” atau “operasi” secara sederhana.

Keputusan terbaik adalah menentukan intervensi yang paling tepat, aman dan berkelanjutan untuk pasien tertentu.

Kesimpulan

Obesitas adalah penyakit kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Perubahan gaya hidup tetap menjadi dasar terapi, tetapi tidak selalu cukup untuk mencapai atau mempertahankan hasil yang dibutuhkan.

Perkembangan semaglutide dan tirzepatide memberikan pilihan baru dengan efektivitas penurunan berat badan yang besar. Evidence head-to-head juga menunjukkan bahwa tirzepatide menghasilkan penurunan berat badan lebih besar daripada semaglutide pada populasi tertentu yang diteliti.

Di sisi lain, metabolic and bariatric surgery tetap merupakan intervensi penting bagi pasien yang memenuhi kriteria dan dapat memberikan manfaat penurunan berat badan sekaligus perbaikan metabolik.

Pada akhirnya, tidak ada satu terapi obesitas yang paling tepat untuk semua orang.

Yang dibutuhkan adalah penilaian klinis yang komprehensif, keputusan bersama antara dokter dan pasien, serta follow-up jangka panjang.

Obesitas bukan hanya persoalan berapa kilogram yang harus diturunkan. Yang lebih penting adalah bagaimana menurunkan risiko penyakit, memperbaiki kesehatan metabolik dan membantu pasien mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.


Catatan Evidence & Fact Check

Artikel ini disusun berdasarkan evidence dan pedoman yang tersedia hingga 26 Agustus 2026, termasuk Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa Kementerian Kesehatan RI, guideline farmakoterapi obesitas 2025, guideline ASMBS/IFSO mengenai metabolic and bariatric surgery, publikasi uji klinis SURMOUNT-5 di New England Journal of Medicine, serta informasi regulasi BPOM dan guideline WHO terkait terapi GLP-1 untuk obesitas.

Catatan penting: angka penurunan berat badan yang disebutkan dalam artikel merupakan hasil penelitian pada populasi tertentu dan bukan jaminan hasil individual. Perbandingan langsung antara obat anti-obesitas dan operasi harus dilakukan dengan hati-hati karena evidence berasal dari penelitian dengan desain dan populasi yang berbeda.

Informasi untuk pasien: artikel ini merupakan materi edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi dokter. Penggunaan obat anti-obesitas harus berdasarkan indikasi dan pengawasan tenaga medis yang kompeten.

Tag: